Seminar Internasional Language Maintenance and Shift, 2 Juli 2011

SEMARANG - Tingginya pergerakan masyarakat memungkinkan terjadinya kawin campur antara dua etnis yang berlainan latar belakang budaya. Keluarga demikian secara tidak langsung juga akan menghasilkan perpaduan budaya termasuk bahasa.

’’Kelestarian bahasa daerah sangat ditentukan oleh keluarga, terlebih terhadap keluarga yang terbangun oleh dua budaya yang berbeda,’’ kata Drs Widodo, Kepala UPT Badan Pengembangan Bahasa Semarang, pada seminar internasional bertema Language Maintenance and Shift yang diselenggarakan Program Magister Lingustik Universitas Diponegoro, Sabtu, (2/7).
“Selama masih ada keluarga yang menggunakan bahasa daerah dalam berkomunikasi, bahasa daerah itu masih akan terus hidup,” katanya.

Kebijakan Pemerintah

Lebih lanjut dia menyampaikan untuk dapat melaksanakan pembinaan bahasa di sekolah, diperlukan kebijakan resmi dari pemerintah daerah untuk memasukkan mata pelajaran daerah dalam kurikulum.
“Ini menjadi salah satu indikator keberlangsungan hidup bahasa daerah, namun harus ditunjang dengan kurikulum dan buku ajar yang memadai,” lanjutnya.

Selaras dengan hal itu, Peter Suwarno, Ph.D. dari Arizona State University menjelaskan, tenaga pengajar di daerah hendaknya wajib menjaga bahasa daerah serta peduli akan kemampuan siswanya saat mengajarkan bahasa.
“Guru hendaknya melengkapi bahan ajar dengan keterampilan yang komunikatif melalui pengetahuan gramatikal,” jelasnya.

Seminar tersebut dilaksanakan dalam rangka kepedulian akan perkembangan bahasa yang terjadi akhir-akhir ini, mengingat perkembangan informasi dan kebudayaan di dunia yang semakin global secara tidak langsung akan mengakibatkan kepunahan suatu bahasa terutama bahasa daerah.

“Kami prihatin terhadap bahasa daerah karena adanya bahasa dominan, yakni bahasa Inggris sehingga akan berpengaruh pada bahasa lokal,” kata Dra Deli Nirmala, M.Hum., ketua panitia, ketika ditemui di sela-sela seminar.
Dia menjelaskan, Bahasa Jawa sebagai bahasa daerah telah masuk level ke-3 menuju kepunahan. Sebab, tingkat kepedulian untuk menjaga dan mengembangkan Bahasa Jawa di kalangan masyarakat sangat rendah.

“Kondisi ini sangat memprihatinkan, untuk itu harus secepatnya mendapatkan respons pihak terkait melalui lembaga formal, pusat bahasa, dan lembaga pendidikan,” jelasnya.

Suara Merdeka, 4 Juli 2011.

SEMARANG - Basa ngoko, basa madya dan basa krama merupakan tingkatan bahasa Jawa yang dikenal masyarakat khususnya Jawa. Namun berdasarkan penelitian pakar linguistik dalam seminar Internasional Language Maintenance and Shift yang diadakan Magister Linguistik Undip, Sabtu (2/7) bahasa Jawa kini bergeser karena perkembangan.

Hal ini dibuktikan dengan penelitian Sudartomo Macaryus dari Universitas Sarjanawiyata Yogyakarta yang menyebutkan, Di Jateng, Jatim, dan DIY, saat ini upacara keagamaan sebagian besar diselenggarakan menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Jawa dan bahkan pada komunitas tertentu menggunakan bahasa Inggris. “Di berbagai kesempatan termasuk pada liturgi ibadah keagamaan, bahasa Jawa sekarang dicampur dengan bahasa lain,” katanya.

Ditambahkan, peran konstitusi yang melegitimasi penggunaan bahasa pribumi, termasuk bahasa Jawa tersebut akan semakin memperkuat keberadaan bahasa Jawa dan memperluas ranah penggunaan bahasa di berbagai bidang kehidupan.

Drs. Suharyo, M.Hum., Koordinator kesekretariatan mengatakan, pihaknya merasa terpanggil mengadakan seminar ini untuk mengkaji temuan-temuan tentang linguistik termasuk di dalam bahasa Jawa sebagai bahasa ibu yang telah bergeser. “Seminar ini sangat bermanfaat, dengan bertemunya pakar linguistik di sini diharapkan bisa mendapatkan simpulan langkah perawatan bahasa yang ada dari pengaruh luar bahasa itu sendiri,” ujarnya.

Ketua panitia seminar, J Herudjati Purwoko, Ph.D. bukan seperti yang diberitakan kemarin, Senin (4/7) mengatakan pihaknya akan terus menggelar seminar serupa untuk memantau segala perkembangan dan menentukan langkah preventif untuk melindungi bahasa.

Suara Merdeka, 5 Juli 2011.

Lihat juga Prosidingnya.