Seminar Nasional: Bahasa dan Budaya Pemertahanan Bahasa Nusantara, 6 Mei 2010

Seminar nasional dengan tema Pemertahanan Bahasa Nusantara ini didasari oleh keprihatinan atas nasib dari sebagian bahasa daerah yang telah dan hampir punah. Secara hukum, seperti yang termaktub dalam penjelasan pasal 36  UUD 1945, keberadaan bahasa-bahasa daerah di Indonesia dilindungi dan dipelihara oleh negara. Dalam UUD itu pula tersurat bahwa bahasa daerah merupakan bagian dari kebudayaan Indonesia yang hidup sehingga perlu dibina dan dipelihara. Tidak diragukan, upaya untuk mewujudkan cita-cita luhur itupun telah dilaksanakan baik oleh pemerintah, institusi swasta, maupun masyarakat pemilik bahasa daerah tersebut. Namun, dari waktu ke waktu, yang terjadi adalah keresahan para pemerhati bahasa bahwa bahasa-bahasa daerah di Indonesia semakin terpinggirkan baik oleh bahasa Indonesia maupun bahasa Asing, terutama bahasa Inggris.

Ditilik dari aspek sejarah, bahasa-bahasa nusantara pada awalnya memiliki fungsi utama sebagai bahasa komunikasi dan pemersatu bagi para penuturnya. Demi alasan nasionalisme, pada Kongres Kedua Pemuda Indonesia (28 Oktober 1928), kaum nasionalis Indonesia secara sepakat memilih salah satu bahasa daerah di nusantara, yaitu bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan Indonesia. Kebijakan itu diperkuat dengan mengubahan nama bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia. Steinhauer (2000:175) menyitir pendapat seorang  ahli  bahasa yang bernama Abraham Anthonie Fokker dalam pidato pengukuhan guru besarnya pada Desember 1950, bahwa antara bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah terdapat pembagian tugas yang jelas, yaitu bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi yang bercorak intelektual, sedangkan bahasa daerah digunakan untuk mengungkapkan fungsi ekspresif.[i] Namun, sejalan dengan perubahan kebijakan dari pemerintahan yang federalistik menjadi unitaristik, Fokker (dalam Steinhauer 2000:176) meramalkan bahwa pengangkatan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu bagi masyarakat Indonesia akan menjadikan bahasa Indonesia terpecah-pecah dan menimbulkan terciptanya berpuluh-puluh dialek yang disebabkan oleh keberadaan bahasa-bahasa daerah. Dalam pidatonya itu, Fokker juga mengkhawatirkan nasib bahasa-bahasa daerah di masa depan (Steinhauer 2000:176). 

            Ramalan itu agaknya tidak terlalu berlebihan bila dikaitkan dengan fenomena kebahasaan di Indonesia setakat ini. Kedudukan bahasa Indonesia yang semakin mantap dan takterbendungnya arus globalisasi membuat bahasa daerah semakin terpinggirkan oleh penuturnya sendiri. Beberapa penelitian yang dilaporkan oleh Gunarwan (2006: 95—113)  tentang pergeseran bahasa Lampung, bahasa Bali, bahasa Banjar dan bahasa Jawa menunjukkan bahwa bahasa-bahasa daerah di Indonesia sedang mengalami proses ditinggalkan oleh masyarakatnya karena mereka beralih menggunakan bahasa lain (baca: bahasa Indonesia dan bahasa Inggris).[ii] Keadaan seperti itu dinamakan pergeseran bahasa. Berdasarkan teori, bahasa yang bergeser secara terus menerus akan mati. Menurut Gunarwan (2006:98—101) pergeseran bahasa daerah oleh desakan bahasa Indonesia disebabkan oleh adanya ketirisan diglosia, di mana bahasa daerah sebagai bahasa R (baca: rendah) tidak lagi digunakan di dalam ranah rumah. Keluarga muda di daerah-daerah pada umumnya sudah enggan menggunakan bahasa daerah masing-masing dalam percakapan sehari-hari karena mereka sudah dikepung oleh berbagai fasilitas seperti TV, radio, internet, telepon, dan  media cetak yang sebagian besar menggunakan bahasa Indonesia. Syukurlah Gunarwan (2006:100; 107; 111) tidak hanya menakut-nakuti kita tentang adanya suatu masa di mana bahasa-bahasa daerah akhirnya pupus oleh desakan bahasa Indonesia, tetapi ia juga memberikan angin segar kepada pemerhati bahasa untuk tidak terlalu pesimis. Menurut Gunarwan (2006: 105—111) kelangsungan hidup bahasa-bahasa daerah dapat diwujudkan melalui dua cara, yaitu pemertahanan dan pembalikan pergeseran. Agaknya cara yang kedua itu sulit diupayakan dan biayanya cukup besar. Cara yang pertama, yaitu pemertahanan bahasa masih mungkin dilakukan, yaitu dengan cara mencegah terjadinya ketirisan diglosia dan mempertahankan fungsi bahasa daerah sebagai bahasa R. Upaya ini harus dilakukan oleh semua pihak dan di semua aspek kehidupan.

            Fenomena kebahasaan yang dikemukakan oleh Gunarwan (2006) tersebut patut kita renungkan. Sayang sekali, Prof. Dr. Asim Gunarwan tersebut telah terlebih dahulu meninggalkan kita. Tidaklah berlebihan kiranya bila pesta ilmiah kali ini merupakan wujud dari salah satu upaya yang diimpikan tidak hanya oleh pak Asim (begitu panggilan akrab beliau) tetapi juga oleh semua pemerhati bahasa. Prosiding ini merupakan bentuk rekaman tertulis dari para pemerhati bahasa yang sadar akan pentingnya mempertahankan bahasa-bahasa daerah di nusantara agar tidak punah sebelum saatnya. Ada lima makalah utama dalam seminar nasional kali ini, yaitu “Pemertahanan Bahasa Nusantara Dalam Perspektif Lokal, Nasional, dan Global“ karya Dr. Dendy Sugono; “Strategi Pemertahanan Bahasa-Bahasa Nusantara”  karya  Prof. Dr. Aaron Meko Mbete; “Bahasa Jawa Semakin Merosot: Siapa Takut?” karya  Dr. Herudjati Purwoko, M.Sc.; “Bahasa Semarangan, Bahasa Tutur Miskin Literatur”  karya  Ir. Hartono, dan  “Piranti Lunak ‘Aksara Jawa’ sebagai Sarana Alternatif Pembelajaran Bahasa Jawa dan Pelestarian Budaya Jawa” karya Muchlasin.

            Di samping mendokumentasi lima makalah  utama tersebut, prosiding ini juga mendokumentasi tiga  puluh makalah pendamping yang merupakan hasil pemikiran dari para pemerhati bahasa dari berbagai institusi yang tersebar di Indonesia. Dari tiga puluh makalah tersebut, delapan makalah mengulas topik pemertahanan bahasa daerah: enam di antaranya  tentang bahasa Jawa, dua makalah tentang bahasa daerah secara umum, dua makalah masing-masing tentang bahasa Palembang dan bahasa Bugis. Di samping kesepuluh makalah tersebut, prosiding ini juga mendokumentasi dua makalah tentang bilingualisme, sebuah topik yang sangat erat kaitannya dengan fenomena pergeseran dan pemertahanan bahasa. Kedua makalah tersebut terdiri atas satu makalah yang membahas dialektologi antara bahasa Jawa dan Sunda di daerah perbatasan dan  satu makalah tentang diglosia. Topik lain yang juga meramaikan prosiding ini berkenaan dengan linguistik terapan; semantik, sintaksis, morfologi, dan pragmatik; bahasa dan jender; serta bahasa dan budaya. Bidang linguistik terapan meliputi topik tentang penerjemahan Injil, pemerolehan bahasa pada anak, dan pembelajaran bahasa. Di bidang semantik, ada dua makalah yang masing-masing tentang pergantian makna dan metáfora, di bidang sintaksis ada satu makalah tentang konstruksi verba beruntun dalam bahasa Indonesia, di bidang morfologi ada satu makalah tentang proses pembentukan kata, dan di didang pragmatik terdapat dua makalah tentang kesantunan berbahasa. Tiga makalah yang berkaitan dengan bahasa dan jender semuanya membahas bagaimana bahasa dapat merepresentasikan identitas perempuan berdasarkan kebudayaan tertentu. Makalah tentang bahasa dan budaya pada umumnya membahas fungsi bahasa dalam mencerminkan budaya pemakai bahasa tersebut.

            Akhir kata, dengan terdokumentasikannya pemikiran-pemikiran tersebut, baik yang langsung maupun yang taklangsung berkaitan dengan upaya pemertahanan bahasa nusantara, diharapkan prosiding ini dapat mengilhami kita semua untuk berbuat sesuatu dalam mempertahankan senarai bahasa-bahasa daerah di nusantara. Kekuatan bahasa Indonesia, antara lain disebabkan oleh dukungan dan sumbangan bahasa-bahasa daerah tersebut. Oleh karena itu, sudah selayaknyalah sekarang kita memperhatikan nasib bahasa daerah dari keterdesakan bahasa Indonesia dan bahasa asing. 

Download Artikel Seminar di Sini